Kontraktor Kubah masjid Jakarta

Kontraktor Kubah masjid Jakarta – Masjid Besar Ainul Percaya Sunan Giri atau umum dimaksud Masjid Sunan Giri, terdapat di komplek makam Sunan Giri di Bukit Giri, Kelurahan Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik propinsi Jawa Timur. tempatnya cuma sebagian langkah disamping makam Sunan Giri melalui jalan kecil selain sejejeran makam makam tua. Untuk hingga ke masjid ini pengunjung juga akan melalui satu lorong yang dikiri kanannya dipenuhi kios kios pedagang menjual peralatan beribadah, cindera mata, serta beberapa barang yang lain, Kontraktor Kubah Masjid.

Perlu sedikit perjuangan untuk menjangkau masjid ini. Dari ruang parkir kendaraan mesti menapaki jalan mendaki sejauh lebih kurang satu kilo mtr.. Cukup melelahkan, untuk mereka yg tidak kuat jalan kaki, ada andong (delman) ataupun ojek. Masuk tempat ada sekitaran enam blok pemakaman yang terdapat di kiri serta kanan pintu gerbang, juga di bagian tangga menuju masjid.

Sedang, makam paling utama tempat Sunan Giri dimakamkan terdapat di areal samping kiri masjid. Ada sekitaran 300 makam di sekitaran kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya hampir sama serta tanpa ada nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak dipakai juga untuk buat candi atau arca di jaman kejayaan Hindu serta Budha.

Histori Masjid Sunan Giri

Hadirnya masjid ini tidak bisa dipisahkan dari histori penebaran agama Islam di daerah Gresik, terlebih yang dikerjakan oleh Raden Paku Ainul Yaqin, salah seseorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Masjid Sunan Giri dibangun pada 1544 atas prakarsa Nyi Ageng Kabunan (cucu Sunan Giri), karena sesudah Sunan Giri wafat pada 1506 banyak beberapa peziarah berdatangan ke Makam Sunan Giri, serta beberapa pengikutnya juga beralih tempat serta tinggal di sekitaran Bukit Giri, supaya lebih dekat ke makam Sang Sunan.

Masjid itu sesungguhnya yaitu bangunan masjid dari komplek pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton yang dibuat th. 1399 saka, ketika itu pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton alami perubahan cepat, hingga lalu dibangunlah satu musolla untuk shalat jamaah dan untuk beberapa aktivitas peantren. Th. 1407 Saka/1481 Miladiyah dipugar dengan memperluas bangunan serta masjid itu diberi nama masjid Jamik, Kontraktor Kubah masjid Jakarta.

Ketika itu Sunan Giri diangkat jadi penasihat oleh Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama, sekalian jadi ketua dari beberapa wali jadi langgar itu lalu jadikan masjid Jamik. Walau bangunan ini ukurannya relatif kecil tetapi cukup indah serta artistik penuh ukiran serta kaligrafi huruf arab dan ayat suci Al-Qur’an. Atap masjid terbuat dari sirip kayu, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir hingga saat ini tetaplah dalam kondisi utuh diatas bukit Kedaton.

Sesudah 10 th. sunan Giri meninggal dunia, perhatian orang-orang berpindah pada makam Sunan Giri, di Bukit Giri, jadi terjadi perpindahan masyarakat, mereka banyak berada tinggal di Bukit Giri. Lihat hal tersebut jadi tergeraklah hati Nyi Ageng Kabunan (cucu ke-3 Sunan Giri yang menjanda) untuk mengubahkan masjid dari Bukit Kedaton Kebukit Giri dekat makam Sunan Giri.

Mihrab Masjid Sunan Giri

Perpindahan dikerjakan pada th. 1544 Masehi. Kurun waktu yang relatif singkat masjid berdiri dengan ukuran 150 m2. Masjid itu lalu bertukar nama jadi Masjid Sunan Giri Ainul Percaya. Berdirinya masjid ini direkam dalam ukiran ber-aksara arab diletakkan diatas pintu paling utama masjid. Tulisan itu berbunyi “Masjid ini dibuat oleh seseorang janda (wanita) cucu Sunan Giri ke-3 pada th. 684 H atau 1544 M”. Tulisan itu di buat oleh Haji Ya’kub Rekso Astono th. 1856 M,

Masjid ini sendiri hingga saat ini sudah alami sekian kali perbaikan. Perbaikan pertama dikerjakan pada th. 1857 saat masjid ini berumur sekitaran 313 th. serta keadaan bangunan masjid dari kayu itu yang makin lapuk. di th. yang sama saja dibangun masjid wedok (masjid spesial kaum hawa) serta konon juga sisa masjid dari Sunan Prapen cucu dari Sunan Giri, Kontraktor Kubah masjid Jakarta.

Th. 1789 M diselenggarakan pelebaran oleh H. Ya’kub Rekso Astono, berkaitan hal itu, sda pendapat yang menyebutkan kalau bangunan masjid inti yang tampak sekarang ini malah hasil karya H. Ya’kub ini, tengah masjid asli yang dipindahkan oleh Nyi Ageng Kabunan dari dari Giri Kedaton ke tempat ini yaitu bangunan yang saat ini jadi masjid wedok.

Atap limas bersusun tiga di masjid Sunan Giri

Perbaikan setelah itu berlangsung di masa Indonesia merdeka. Di th. 1950 Masjid Sunan Giri alami rusaknya karena gempa bumi. Sistem perbaikan di pimpin oleh H. Zaenal Abidin sebagai juru kunci makam dengan orang-orang Giri melakukan perbaikan masjid ini dalam kurun waktu tiga bulan.

Pelebaran halaman masjid dikerjakan th. 1957 oleh Panitia Kesejahteraan Makam serta Masjid Sunan Giri. Pelebaran halaman itu dikerjakan dengan mengubahkan pendopo masjid dari depan masjid ke kesebelah utara, dan pergantian atap masjid dari atap sirap memakai atap genteng serta memperluas bak penampungan air hujan manfaat kepentingan air bersih.

Perbaikan perbaikan kecil selalu dikerjakan sampai masa 1970-an. Perbaikan terahir dikerjakan pada th. 1982, peresmiannya dikerjakan oleh Bupati KDH Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982. Saat ini luas bangunannya menjangkau 1. 750 m² telah berkali kali lipat luasnya dari ukuran awal mulanya, diatas lahas seluas 3. 000 m².

Monumen Sejarah

Masjid Ainul Percaya Sunan Giri ini telah jadi monument histori yang dilindungi oleh negara dari sejak masa penjajahan Belanda. Di jaman Hindia Belanda, masjid ini tercatat jadi peninggalan histori, didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada th. 1931. Saat ini ada dibawah pengawasan Direktorat Perlindungan serta Pembinaan Peninggalan Histori serta Purbakala Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan.

Arsitektur Masjid Ainul Percaya Sunan Giri

Seperti lazimnya masjid-masjid tua di semua Nusantara jadi Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini juga mempunyai bentuk kubah yang ciri khas, yakni kubah atap limas dengan tiga undakan, Kontraktor Kubah masjid Jakarta. Akulturasi dengan budaya sebelumnya Islam begitu kental tampak di masjid ini, yang paling menyolok yaitu ada sebagian pintu gerbang berbentuk gapura paduraksa termasuk juga pintu masuk paling utama ke masjid ini.

Di bagian dalam masjid juga akan kita dapatkan sokoguru dari kayu yang berjejer menyokong susunan atap masjid ini. Masing masing masing sokoguru ini berdiri di atas umpak dari batu. Umpak batu di hias dengan warna emas, sisi bawah tiang dihias dengan ukiran yang meruncing dengan juga warna emas.

Interior Masjid Sunan Giri

Batang sokoguru terbuat dari sebatang kayu memiliki ukuran besar, di profil seputarnya, di cat dengan warna hijau muda. Di tiap-tiap pertemuan sokoguru dengan soko alangnya juga dihias dengan ukiran yang meruncing bewarna emas. Nyaris semua materi kayu didalam masjid ini di cat dengan warna hijau muda. Dibawah atap paling utama menggantung lampu antik menjuntai diatas ruangan paling utama.

Mihrab masjid terbagi dalam tiga sisi ceruk. Sebalah kiri di letakkan satu jam berdiri memiliki ukuran besar. Ceruk tengah adalah tempat imam dengan serta paling kanan adalah ceruk di mana mimbar tempat khatib diletakkan. Mimbar berukir dari kayu ini dicat dengan gabungan hijau muda serta warna emas, Kontraktor Kubah masjid Jakarta.

Jadi tempat tinggal beribadah, masjid ini demikian ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima saat) ataupun shalat Jumat, bahkan juga pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, serta Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera serta Kalimantan.