3 Kegagalan dalam Penggunaan Digital Signage pada Industri Ritel dan Cara Menghindarinya

Retailer adalah salah satu pasar terbesar untuk digital signage, tetapi itu tidak berarti setiap retailer menggunakannya dengan benar. Bahkan ketika sedang berbelanja, saya sering melihat display interaktif yang rusak atau tidak berfungsi dengan konten yang buruk. Tapi untungnya, hal tersebut bisa diperbaiki.

Display digital signage yang rusak

Saya sering melihat display yang tidak berfungsi. Seperti contoh, layarnya tidak berisi konten, atau terkadang layar sentuhnya sama sekali tidak berfungsi. Atau bahkan lebih buruk lagi, saya melihat tampilan desktop di layar, yang memungkinkan siapa saja untuk mengotak-atik dan akhirnya menimbulkan kerusakan.

Yang terburuk dari semuanya, tidak adanya orang yang memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di layar. Paling-paling, yang retailer bisa lakukan hanyalah menempel sticky note di layar.

digital signage

Cara mudah untuk memperbaikinya adalah dengan menggunakan perangkat lunak digital signage yang memonitor “kesehatan” layar. Dengan kata lain, software ini memeriksa untuk memastikan tampilan berfungsi dan semuanya berjalan lancar. Dengan cara ini, pihak servis bisa merespon lebih cepat. Selain itu, vendor bisa menyuplai retailer dengan alat yang digunakan ketika layar mati, seperti tanda/pemberitahuan “out of order”.

Pengaturan / penempatan layar yang kurang menarik

Saya sering melihat cara pengaturan layar interactive digital signage yang buruk, yang pastinya kurang baik untuk bisnis. Ada yang menempatkan digital signage dengan seadanya sehingga terkesan membosankan dan sebagian lagi bahkan kurang nyaman untuk dilihat. Seperti contoh, saya pernah melihat sebuah kios yang menampilkan orang virtual yang menatap langsung ke orang-orang yang melintasinya, dengan senyum yang aneh. Bukannya menarik, hal semacam ini malah menakutkan bagi mereka yang melihatnya.

Setting display yang baik harus menawarkan motif yang jelas dan ringkas untuk menarik konsumen. Seperti contoh, menggunakan karya seni lokal untuk menarik perhatian orang, atau advertisement diskon misalnya. Konten tersebut bisa disesuaikan menurut demografis atau bahkan dari posisi konsumen tersebut berdiri.

Konten yang buruk

Dalam banyak hal, konten yang kurang menarik adalah masalah yang paling buruk dan paling merusak untuk sebuah tampilan. Jika sebuah konten kurang menarik, seluruh tampilan menjadi tidak berharga. Saya sering melihat layar digital signage berisikan konten membosankan, seperti tampilan mal yang masih menggunakan gambar piksel.

Mengembangkan dan memelihara konten yang efektif tentu sulit, tetapi Anda dapat membuatnya sedikit lebih mudah dengan menggunakan tiga alat:

Gunakan sistem manajemen konten yang baik yang memungkinkan Anda untuk dengan mudah menukar konten.
Tempatkan seseorang yang bertanggung jawab atas pembuatan dan pengelolaan konten.
Secara konsisten, gunakan analitik untuk menguji keefektifan sebuah konten.
Konten adalah investasi berkelanjutan, dan Anda tidak boleh ketinggalan.

Sumber: Melotronic.com